DUNIA ANIMASI

April 22, 2009

Yang Kelima

Filed under: non berita — asiaaudiovisualra09pernandacakrabuanakusuma @ 9:31 am
Tags:

HUBUNGAN ANIMASI DENGAN DUNIA POLITIK?

Ekspoitasi sinema untuk kepentingan politik telah berlangsung sepanjang sejarah perfilman, dan ada banyak contoh yang bisa diketengahkan mengenai hal ini. Semenjak pertama kali sinema lahir yang ditandai dengan pembuatan filmfilm bisu yang hanya mengandalkan gerak, sutradara seperti D.W. Graffith dengan sudut pandang politiknya, selalu berusaha untuk memengaruhi pola pikir dan opini pemirsa. Film pertama Graffith dengan judul “Lahirnya Sebuah
Bangsa” lebih mengangkat pola pandang politik dan ideologi pembuatnya yang fanatik. Setelah berlalunya beberapa dekade dan seiring dengan lahirnya film-film animasi, sinema tetap eksis mempertahankan bahkan memperluas pengaruh politiknya. Dalam perang dunia kedua, AS secara luas melancarkan propaganda dan perang urat saraf melalui dunia animasi hingga mampu memukul lawan-lawannya termasuk Blok Timur. Pada akhir dekade 1940-an dan pasca perang dunia kedua, Dinas Intelijen Amerika (CIA) berupaya keras memperlebar budaya perang melawan komunisme di dunia. Salah satu caranya adalah dengan memproduksi dan memperbanyak filmfilm
animasi, seperti film animasi yang mengangkat tulisan George Orwell berjudul “Animal Farm.” “Animal Farm” adalah film animasi pertama yang digarap di Inggris dan berdurasi panjang. Film animasi ini mulai digarap
dari tahun 1951 hingga 1954. John Halas sebagai sutradara film ini dalam memorinya menulis, “Film ini ditujukan untuk kalangan dewasa, bukan anak-anak. Hal ini jelas berbeda dengan anggapan orang-orang yang mengira film ini diproduksi untuk dunia anak.” Hal yang lebih menarik adalah kontrak produksi film ini, dalam kontrak, mereka sepakat untuk mengubah alur cerita yang agak berbeda dengan naskah aslinya. Halas yang menyadari kemampuan perusahaan film Walt Disney melakukan perubahan ini untuk memenuhi tuntutan pemirsa, juga untuk menarik perhatian CIA agar
mendapatkan dukungan dinas intelijen ini. Oleh sebab itu, di penghujung film, kita menyaksikan kepunahan babi-babi di peternakan tanpa menyinggung sama sekali tentang manusia. Mereka berusaha mengenalkan kepada publik bahwa babi dalam film ini adalah simbol komunisme. Adegan ini jelas berbeda jauh dengan cerita yang ada di bagian terakhir buku. Perusahaan besar perfilman, “Walt Disney” adalah perusahaan ternama merupakan tokoh penting dalam bidang pembuatan film-film animasi politik. Bahkan namanya dijadikan untuk mendirikan sebuah rumah produksi film animasi. Walt Disney sejak memulai karirnya digolongkan sebagai tokoh kontroversial yang memiliki pandangan politik ekstrim dan rasis. Dalam kasus Mc Cartism, Walt Disney memberikan kesaksian yang meguntungkan Cartism. Film-film yang
diproduksi oleh Walt Disney rata-rata membawa dan menyuarakan kepentingan Rezim Zionis Israel. Sejak pertama kali menggeluti dunia animasi pada tahun 1932, Walt Disney dalam karyanya berulang kali mengangkat ajaran dan simbolsimbol Zionis. Seperti film-film animasi berikut: “Cinderella”, “Snow White” dan lainnya, semuanya merupakan contoh
nyata bahwa rumah produksi ini membawa kepentingan Zionisme. Salah seorang pegawai Walt Disney mengatakan:
“Memang Stalin dan Bush mengejar kekuasaan, tetapi pada kenyataannya “Mickey Mouse” dan “Shrek” yang hadir dimana-mana.” Menurut data statistik resmi, Amerika menghabiskan anggaran tahunan sekitar 250 milyar USD untuk kepentingan propaganda dan perang urat saraf. Namun menurut data tidak resmi, tiap tahunnya negara ini menguras kocek jauh diatas angka resmi. Hal yang sangat menyita perhatian para pemilik media di seluruh dunia adalah propaganda dan perang urat saraf pemikiran politik serta budaya lewat media, tak terkecuali dunia animasi. Isi dan bentuknya juga jauh berbeda dengan bentuk sebelumnya. Jika sebelumnya dilakukan secara diam-diam dan dalam bentuk simbolik, tapi sekarang dilakukan secara terang-terangan. Film-film animasi sekarang sekilas menggambarkan dunia orang dewasa, tapi yang dituju justru anak-anak. Film-film yang diproduksi oleh Walt Disney dan rumah produksi lainnya, melakukan tranformasi nilai-nilai budaya dan misinya dengan cara ini. Anak-anak sangat antusias untuk mengetahui akhir cerita film Shrek, atau Cinderella, apakah ia akan menikah dengan kekasihnya atau tidak? Dimana saja ada poster dan gambar
tokoh-tokoh dalam film animasi, pandangan anak-anak juga akan tertuju padanya. Secara lepas, anak-anak tumbuh dan berkembang di bawah pengaruh budaya animasi, dan budaya ini akan membentuk kepribadian dan pola pandang mereka.
Mungkin saja mayoritas masyarakat mengabaikan pengaruh budaya film-film animasi, tapi misi politik film-film ini jauh lebih merusak. Mengingat para tokoh dunia politik mentransfer pengaruhnya secara langsung. Film-film yang terlihat kekanak-kanakan, tapi dengan licik, para tokoh politik Barat ini menularkan ide-idenya kepada anak-anak. Sebagaicontoh, kisah tentang kehidupan mesra dan damai antara seekor kambing dan seekor srigala. Lewat kisah ini, mereka ingin menyampaikan pesan agar mereka hidup secara damai dengan srigala meskipun buas. Dengan demikian, film-film ini ingin mengetepikan semangat melawat kebengisan dari jiwa anak-anak. Mereka juga mendiktekan kepada anak-anak bahwa ikan hiu yang buas bisa menjadi sahabat bagi ikan-ikan lain. Dan rasa takut ikan-ikan lain terhadap ikan hiu tak lebih dari sekedar dongeng yang tidak bisa dipercaya. Seperti yang
digambarkan dalam film “Shark Tale.” Terdapat banyak kesamaan antara kondisi masyarakat yang digambarkan dalam film-film animasi dengan kehidupan nyata. Sebenarnya kaum imperialis dan penjajah adalah sekelompok ikan hiu yang sekilas terlihat hidup berdampingan secara damai dengan ikan-ikan lain. Dengan licik, mereka memisahkan diri dari alam
buas dan arogan. Film animasi “Happy Feet,” sebagai pemenang hadiah Oscar untuk kategori film animasi terbaik pada tahun 2006, termasuk karya berpengaruh dalam bidang ini. Film ini menggambarkan tentang bagaimana penduduk sebuah negeri para pinguin dipaksa takluk dihadapan penjajah. Penjajah yang selama ini merampas kekayaan mereka, bahkan ingin
melenyapkan penduduk daerah itu. Tapi adegan ini ditampilkan dalam bentuk yang tidak adil, yaitu sebuah operasi dan aksi damai. Akhirnya penghuni negeri pinguin itu sampai pada kesimpulan bahwa mereka harus memiliki sikap toleran dan hidup berdampingan. Misi film-film seperti ini hanya ingin menghapus semangat hidup merdeka, rasa wibawa, dan
nasionalisme dari dalam diri anak-anak. Dampak buruk film-film ini akan terekam dalam memori anak-anak dalam waktu yang lama.
Sekarang, kita dapat menyaksikan jejak ide dan pemikiran imperialis serta kapitalis Barat khususnya Amerika dalam berbagai bidang. Ide dan pemikiran ini disebarkan lewat berbagai media, karena media disamping memiliki jangkauan yang luas, juga sangat berpengaruh. Media bahkan mampu mengubah pola pikir dan pandangan seseorang. Lakonlakon dalam film memiliki pengaruh yang sangat besar dan mampu mengubah perilaku anak-anak dan remaja. Oleh sebab itu, lingkungan anak dan remaja perlu mendapat perhatian luar biasa. Saat ini, prioritas semua negara adalah
memperkuat peran media nasional, mengangkat nilai-nilai budaya setempat, serta melawan serangan budaya asing.
Kami berharap dapat menemukan solusi terbaik terkait hal ini.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: