DUNIA ANIMASI

June 8, 2009

yang ke enam

Filed under: non berita — asiaaudiovisualra09pernandacakrabuanakusuma @ 4:21 am
Tags:

FFAI…,????

FFAI, adalah singkatan dari Festival Film Animasi Indonesia. Sebuah festival film khusus animasi bertaraf Internasional yang digagas tahun 1998, tetapi baru berdiri secara resmi pada tahun 2001.

Festival film animasi Indonesia pertama yang cukup banyak mendapat sambutan dari masyarakat Indonesia saat itu, karena dianggap “lain” dengan festival-festival film yang sedang tumbuh di Indonesia. Pada awal berdirinya memang masih dalam naungan Pekan Komik dan Animasi Nasional (PKAN) di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, namun kemudian dirasa perlu untuk berkembang secara mandiri sebagai wadah untuk memonitor dan mengembangkan dunia animasi Indonesia (animasi di sini bukan hanya film animasi saja, tetapi termasuk segala aplikasi animasi yang berkembang, termasuk game, simulasi, desain visual hingga web desain).

Pada awal FFAI pertama, dilakukan retrospeksi film karya Lotte Reineger dengan di dub (sulih suara) langsung sambil mendongeng di di depan layar karya film Lotte Reineger oleh Pak Suyadi atau Pak Raden. Kemudian juga ada panorama film-film dari negara ASEAN (Filipina, Thailand, Malaysia dan Vietnam), disamping juga ada film-film dari Kanada produksi National Film Board of Canada yang cukup produktif memproduksi film-film animasi kreatif. FFAI pertama dilaksanakan di gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail.

Kompetisi yang diadakan juga berlaku hanya untuk film-film animasi Indonesia saja. Pemenang film animasi pendek saat itu adalah film karya Wahyu Aditya, Da Pupu Project. Sedang film animasi medium length film, atau film animasi berdurasi diatas 25 menit keatas, untuk diedarkan dengan media VCD adalah film animasi berjudul Dewi Mayangsari karya studio Wissta Jakarta.

FFAI ke-2, tahun 2003, dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 9 s/d 16 November 2003. FFAI berhasil membuat pemutaran retrospeksi dari karya-karya Gerit van Dijk dari Belanda. Juga memutar Panorama film-film animasi dari Swiss, semuanya atas kerjasama dengan animator senior dari Swiss, Robi Engler yang secara khusus mengirimkan 3 paket program film dari Swiss; Classic Film animation, Swiss Student dan paket Swiss Experimental Films.

Disamping itu juga hadir film-film pendek dari pilihan kurator film animasi tingkat dunia Giannalberto Bendazzi yang memilih film-film dari studio Zagreb dari Croasia.

Juga ada film-film animasi dari Lithuania karya animator muda Sandra dan Daiva Minkevicuite yang memberikan 8 film pendek animasi yang unik dan menarik sebagai gambaran perkembangan dunia animasi dari Lithuania.

Pada FFAI ke-2, film animasi yang menonjol adalah Anoman, Angels Gossip karya Bambang Gunawan atau Bambi. Juga ada film animasi Loud Me Loud karya studio Kasatmata dari Jogjakarta. Pada saat ini juga muncul film animasi cerita panjang dengan menggunakan teknik animasi 3D, walau tidak sepenuhnya dalam 3D karena dicampur dengan film live-action, tetapi film ini telah memberi penanda munculnya film animasi cerita panjang di Indonesia, film ini adalah Janus Prajurit Terakhir karya sutradara Chandra Endropuro.

FFAI ke-3 tahun 2005, berlangsung di Taman Ismail Marzuki. Diharapkan acara yang didesain dua tahun sekali ini, sebagaimana bienal (biennale) seni yang dengan diadakan dua tahun sekali, bisa memberi waktu bagi para kreator film animasi untuk dapat membuat karya yang maksimal. Hal ini juga mengacu pada acara serupa di berbagai festival film animasi Internasional yang juga mengadakan secara bienal dua tahunan agar bisa mendapatkan film-film masterpiece pada masanya.

Pada FFAI ke-3, dalam penyelenggaraannya diharapkan dapat menjadi cikal bakal masuknya dunia animasi Indonesia ke dunia Internasional. Pada saat itu FFAI mengundang president ASIFA (Asosiasi Animasi Internasional) periode ini, Noureddin Zarrenkilk dari Iran yang juga akan memutarkan secara retrospektif karya-karya masternya. Tapi sayangnya beliau urung datang karena bertepatan dengan acara beliau di China sebagai juri dan negara Balkan. Tetapi FFAI berhasil mengundang dan menghadirkan salah satu orang penting di ASIFA, Thomas Renoldner, animator dari Austria yang juga bertindak sebagai ketua juri untuk kompetisi film animasi nasional, dan memutarkan film-film animasi karyanya secara retrospektif.

Sampai saat ini, FFAI memang masih bertahan untuk hanya membuka kompetisi untuk pembuat karya film nasional, yang tujuannya untuk membangun film animasi nasional agar tumbuh berkembang, dan bersentuhan dengan dunia kreatif dari luar negeri.

Kehadiran Thomas Renoldner ini penting sebagai tonggak dibukanya pintu ASIFA untuk memasukkan Indonesia dalam International Board yang turut mengurusi perkembangan film animasi kreatif di dunia Internasional. Keputusan ini tidak salah, karena mulai bulan Mei 2006, Gotot Prakosa terpilih oleh Board ASIFA Internasional, dan secara aklamasi penuh masuk dalam International Board ASIFA, menjalin kerjasama lebih luas dengan festival-festival film animasi dunia sebagai jaringan penyebaran film animasi Indonesia memasuki dunia global. Semenjak itu film-film animasi Indonesia banyak diminta untuk berpartisipasi dalam berbagai festival film Internasional.

Pada FFAI ke-3 2005, film-film animasi yang menonjol adalah: Help! Karya Firman Widyasmara, Mr. Pito karya Wahyu Aditya, dan tentu saja memunculkan film animasi cerita panjang Homeland karya Gangsar Waskito dari studio Kasatmata Jogjakarta.

Mulai ada Festival Tour, ke Yogyakarta yang merupakan kerjasama Yayasan Seni Visual Indonesia dengan Taman Budaya Yogya, festival ini mengkokohkan film animasi sebagai kelanjutan dari salah satu karya animasi pertama yang pernah ada, yaitu wayang kulit Indonesia. Hal yang ditegaskan oleh para pakar diantaranya Thomas Renoldner, dari Austria, dan Dr. Bhakdi Sumanto dalam diskusi terbuka di Taman Budaya, Yogyakarta.

Kini memasuki FFAI ke-4, 2007, diharapkan ada perkembangan yang signifikan untuk institusi festival yang semestinya akan lebih kokoh dan solid dalam berkembang sekaligus membuka semakin lebar pintu kerjasama dengan dunia luar dengan demikian akan membentuk sinergi dengan usaha-usaha lain dari para animator Indonesia yang saat ini boleh dirasa sangat giat berkembang, dengan munculnya tenaga-tenaga kreatif yang segar dan militan untuk memperjuangkan lebih luas film animasi Indonesia.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: